ICC Membuka Penyelidikan Kejahatan Perang yang dilakukan Israel di Wilayah Palestina

Bagikan Ke :

Link disalin

Kepala jaksa ICC, Fatou Bensouda mengatakan pada hari Rabu, 3 Maret 2021, bahwa dia meluncurkan penyelidikan resmi atas kejahatan perang di wilayah Palestina.

"Hari ini, saya mengkonfirmasi inisiasi oleh kantor ICC terhadap penyeilidikan situasi di Palestina." Ungkap Fatou Bensouda.

“Penyelidikan akan mencakup kejahatan di dalam yurisdiksi Pengadilan yang diduga telah dilakukan Israel sejak 13 Juni 2014.” tambahnya.

Jaksa penuntut mengatakan bahwa ICC akan menentukan prioritas mengenai penyelidikan pada waktunya. Mengingat adanya pandemi COVID-19 dan beban kerja yang berat saat ini.

“Tantangan seperti itu, bagaimanapun, sesulit dan serumit apapun, tidak dapat mengalihkan diri kita untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut.” kata Bensouda.

Jaksa penuntut menyatakan bahwa langkah pertama adalah memberi tahu "semua Negara Pihak dan Negara-negara yang biasanya menjalankan yurisdiksi atas kejahatan yang terkait dengan penyelidikannya."

“Ini mengizinkan Negara tersebut untuk meminta Kantor untuk menunda penyelidikan yang relevan dari Negara tersebut atas warga negaranya sendiri atau orang lain dalam yurisdiksinya sehubungan dengan kejahatan Statuta Roma yang dirujuk dalam pemberitahuan tersebut.”

“Setiap investigasi yang dilakukan oleh ICC akan dilakukan secara independen, tidak memihak dan obyektif, tanpa rasa takut. Statuta Roma mewajibkan ICC untuk menegakkan kebenaran, memperluas penyelidikannya. Mencakup semua fakta dan bukti. ”kata Bensouda.

ICC

Pada 5 Februari 2021, ICC memutuskan bahwa ia dapat menjalankan yurisdiksi kriminalnya terhadap Situasi di Palestina, dan bahwa ruang lingkup teritorial yurisdiksi ini meluas ke Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur.

"Wilayah yurisdiksi Pengadilan dalam Situasi di Palestina meluas ke wilayah yang diduduki Israel sejak tahun 1967, yaitu Gaza dan Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur," kata hakim.

Kepala jaksa ICC mengatakan pada 2019 bahwa ada dasar yang masuk akal untuk membuka penyelidikan kejahatan perang yang dilakukan Israel terhadap penduduk asli Palestina di Jalur Gaza, serta aktivitas pemukiman Israel di Tepi Barat.

Warga Palestina menyambut keputusan itu sebagai kesempatan keadilan bagi para korban serangan Israel.

Palestina telah meminta pengadilan untuk menyelidiki kejahatan perang Israel selama perang tahun 2014 melawan Jalur Gaza. Ketika 2.147 warga Palestina menjadi korbannya. Termasuk wanita dan anak-anak, dan melukai 1.070 orang lainnya.

“Pada akhirnya, perhatian utama kami harus kepada para korban kejahatan, baik Palestina maupun Israel, yang timbul dari konflik berkepanjangan dan ketidakamanan yang telah menyebabkan penderitaan dan keputusasaan yang mendalam bagi semua pihak.” Ungkap Jaksa ICC.

Source : Qudsnen.co