Para aktivis di Jalur Gaza, Palestina, bakal kembali menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di perbatasan dengan Israel pada Maret 2020 mendatang.

Seperti dilansir Associated Press, Jumat (27/12), penggagas Demo Kembali ke Kampung Halaman (Great March of Return) menyampaikan pernyataan itu menjelang akhir 2019. Nampaknya hal itu wujud pendekatan yang dilakukan Hamas yang menguasai Jalur Gaza untuk menenangkan situasi demi mengakhiri blokade Israel yang sudah berlangsung selama 12 tahun.

Panitia menyatakan mereka hanya akan menggelar unjuk rasa sekali dalam satu bulan.

Demo itu mulanya dilakukan sebagai bentuk protes atas kesulitan perekonomian di Jalur Gaza akibat blokade Israel. Sebanyak 80 persen penduduk Jalur Gaza adalah pengungsi atau keturunan para pengungsi yang kehilangan tempat tinggal karena peperangan dengan Israel pada 1948.

Hamas melihat peluang itu dan disebut memprovokasi massa untuk mencoba menerobos perbatasan dengan Israel, membakar ban, dan melempari pasukan Israel dengan batu dan bom molotov. Akibatnya, Israel membunuh 215 warga sipil Palestina yang terlibat dalam unjuk rasa tersebut, termasuk paramedis.

Israel beralasan mereka hanya membela diri dan mempertahankan perbatasan mereka dengan Palestina.

Mesir dan Israel menutup perbatasan dengan Jalur Gaza sejak Hamas berkuasa pada 2007. Saat ini Mesir, Qatar dan Perserikatan Bangsa-Bangsa terus mencoba menengahi pertikaian Hamas dan Israel.

Akan tetapi, hal itu bergantung apakah aksi unjuk rasa itu tidak dianggap memicu kerusuhan serta berkurangnya serangan roket dari Jalur Gaza ke arah Israel.

Leave a Comment