Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres meminta Israel untuk menghentikan penggunaan kekerasan senjata terhadap anak-anak. Seruan itu bertepatan dengan pemberian label PBB terhadap Israel sebagai salah satu negara yang menjadi pembunuh anak terbesar di dunia.

Laporan PBB yang dirilis menunjukkan Israel telah membunuh lebih dari 56 anak Palestina pada 2018. Itu menjadi jumlah terbesar sejak perang Israel-Hamas di Jalur Gaza pada 2014. Dalam laporan Dewan Keamanan, Sekjen PBB Guterres mengungkapkan, pasukan Israel juga melukai hampir 2.700 anak-anak saat demonstrasi, bentrokan, dan operasi penangkapan.

Tak sebanding, hanya enam anak Israel terluka akibat insiden atas konflik tersebut. “Israel mesti secepatnya menempatkan langkah preventif dan protektif untuk mengakhiri penggunaan kekuatan yang berlebihan,” seru Guterres seperti dilansir Reuters. “Semua aktor di Palestina juga harus menahan diri agar tidak mendorong partisipasi anak-anak dalam aksi kekerasan,” ujarnya.

Laporan tersebut bertujuan untuk membuat malu pihak-pihak dalam konflik yang membunuh anak-anak. PBB pun berharap agar kelompok yang bertikai juga mengimplementasikan langkah-langkah untuk melindungi anak-anak. Misi Israel di PBB tidak memberikan komentar mengenai laporan tersebut. Khusus Palestina, tingginya jumlah korban anak-anak tewas di Palestina pada 2018 karena demonstrasi perbatasan di Jalur Gaza yang dimulai Maret 2018 dan masih berlangsung hingga saat ini.

Demonstrasi itu kerap memicu aksi penembakan dari tentara Israel. Sementara itu Israel menyatakan kelompok teror Hamas kerap menggunakan kekerasan untuk menutupi serangan terhadap tentara Israel. Setiap aksi demonstrasi yang dikendalikan Hamas kerap diwarnai aksi kerusuhan. Warga Palestina juga kerap menyabotase dan melintasi perbatasan Israel.

Para demonstran mengadopsi taktik untuk meluncurkan balon terbang ke wilayah Israel sehingga menyebabkan kebakaran hutan dan ladang pertanian. Hamas juga membentuk unit khusus untuk menjaga ketegangan di perbatasan selama malam hari dan fajar menyingsing. Guterres tetap mengutuk peningkatan jumlah korban tewas yang kerap diakibatkan serangan di wilayah padat penduduk dengan target warga sipil seperti sekolah dan rumah sakit.

Laporan tersebut dihasilkan oleh Utusan Khusus PBB untuk Anak-Anak dan Konflik Bersenjata Virginia Gamba dan mengikutsertakan nama Guterres. “Jumlah korban anak-anak terus meningkat dan itu menunjukkan angkat yang mengkhawatirkan,” ujar Guterres. Seperti dilansir Middle East Monitor, tentara pendudukan Israel telah menewaskan 16 anak-anak Palestina di Gaza dan Tepi Barat sejak awal 2019 lalu.

Itu diungkapkan Defence for Children International-Palestine (DCIP). Dalam laporan DCIP, kelompok pemerhati hak anak itu menyatakan 12 anak-anak tewas di Gaza dan 4 anak lainnya meninggal akibat kekerasan tentara Israel di Tepi Barat. “Tentara penduduk Israel menggunakan kekuatan senjata berlebihan dan menggunakan amunisi untuk menyerang dan membunuh anak-anak,” demikian tuding DCIP. Mereka juga menyatakan pembunuhan tentara Palestina tidak menjadi perhatian besar karena kurangnya akuntabilitas.

Israel Menyiksa Anak-Anak Palestina

Pendudukan Israel telah mentransformasi gambar kegembiraan, kesenangan, dan pendidikan menjadi hal yang menyedihkan bagi anak-anak di Palestina. Sekitar 1,3 juta anak-anak di Tepi Barat terkena dampak langsung kebijakan penangkapan dan penahanan oleh tentara Israel.

Adapun 1 juta anak di Gaza juga terkena dampak lebih parah karena pembatasan yang dilakukan Israel. “Sebanyak 42% dari anak-anak di bawah usia 15 tahun di Jalur Gaza telah beranggapan bahwa Israel telah membunuh masa kecil mereka,” ujar Nabil al-Sahli, pakar Palestina.

Anak-anak Palestina juga menjadi korban penangkapan dan ditahan di penjara Israel. Tentara Israel telah menangkap sedikitnya 800.000 warga Palestina sejak 1967 di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Saat ini 7.000 warga Palestina tinggal di penjara Israel, termasuk 70 perempuan dan lebih dari 400 anak-anak. Sebanyak 95% dari para tahanan itu menjadi korban penyiksaan tentara Israel. “Keluarga juga dilarang menjenguk, khususnya tahanan anak-anak,” jelas Sahli.

Laporan UNICEF mengonfirmasi bahwa anak-anak Palestina yang ditahan tentara Israel ternyata mendapatkan penyiksaan secara sistematis. Menurut UNICEF, Israel secara sistematis melanggar hukum internasional. Penyiksaan terhadap anak-anak Palestina di penjara Israel termasuk verbal dan fisik.

UNICEF menyebutkan ada sekitar 700 anak-anak berusia 12–17 tahun, umumnya anak-anak ditangkap dan ditahan tentara Israel setiap tahunnya. Unit PBB khusus Konvensi Hak-Hak untuk Anak (UNCRC) menyatakan tindakan Israel bisa diklasifikasikan sebagai aksi tak berperi kemanusiaan. UNICEF menyebutkan, perlakuan tidak manusiawi terhadap anak-anak dilakukan sejak aksi penangkapan dan hingga proses penyelidikan dan vonis yang berakhir di penjara.

Laporan juga menyatakan banyak anak-anak dipaksa mengaku untuk melakukan tindakan yang sebenarnya tidak mereka lakukan. Selama proses hukum, anak-anak tidak mendapatkan pendampingan pengacara ataupun ditemani anggota keluarganya. Anehnya, kebanyakan anak-anak harus menandatangani berita acara pemeriksaan dalam bahasa Ibrani yang tidak mereka pahami.

Pertanyaannya sekarang, apakah mungkin para penjahat perang Israel dan negara Israel bisa diajukan ke sistem hukum internasional atau Mahkamah Internasional (ICC) atas pelanggaran HAM yang mereka lakukan?

“Secara teori, Palestina bisa mengajukan para pejabat Israel dan negara Israel yang melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang,” kata Sahli. ICC juga membuka pintu untuk memproses hukum pelanggaran HAM yang dilakukan tentara Israel terhadap tahanan anak-anak ataupun pembunuhan terhadap anak-anak.

Konflik Yaman Jadi Perhatian

Masih dalam laporan korban anak-anak yang tewas dalam konflik versi PBB, di Yaman, konflik antara Arab Saudi dan pemberontak Houthi yang didukung Iran menyebabkan lebih dari 1.100 anak tewas. Selama ini Houthi mendapatkan dukungan penuh dari Iran. Mereka juga kerap meluncurkan serangan ke arah wilayah Saudi.

Duta Besar Arab Saudi untuk PBB Abdallah al-Mouallimi mengungkapkan laporan itu untuk menunjukkan langkah-langkah koalisi untuk melindungi anak-anak. “Setiap kehidupan anak-anak selalu berharga,” katanya. Tapi dia juga mempertanyakan sumber dan keakuratan data dari laporan tersebut. “Jumlah korban anak yang tewas itu terlalu dibesar-besarkan,” ucapnya.

Sebagai langkah untuk memperluas kontroversi tentang laporan tersebut, Guterres membaginya dalam dua kategori. Satu daftar pihak yang menjabarkan langkah perlindungan anak-anak dan pihak lain yang tidak melakukannya.

Dalam daftar itu disebutkan koalisi militer pimpinan Saudi dan pasukan Pemerintah Yaman menjadi daftar pertama, kemudian disusul oleh milisi pemberontak Houthi, milisi pro-Pemerintah Yama, Pasukan Sabuk Keamanan, dan Al Qaeda di Semenanjung Arab pada posisi kedua.

Laporan PBB menunjukkan Houthi membunuh dan melukai 398 anak-anak dan pasukan Pemerintah Yaman bertanggung jawab atas kematian 58 anak-anak. Laporan itu juga mengungkapkan bahwa konflik di Afghanistan juga menyebabkan 3.062 anak-anak tewas atau terluka. Adapun di Suriah, serangan bom kluster dan penembakan telah mengakibatkan 1.854 anak-anak tewas.

Sumber: Koran Sindo

Leave a Comment